NewsAI
news
Keyaa Banerji Korban Deepfake Usai Angkat 140kg

Keyaa Banerji Korban Deepfake Usai Angkat 140kg

Atlet angkat besi India Keyaa Kunal Banerji meraih medali perak di Kejuaraan Dunia Junior IPF usai mengangkat beban 140 kilogram, prestasi yang seharusnya menjadi momen kebanggaan. Namun, kemenangan itu justru diikuti gelombang pelecehan daring dan penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan yang menciptakan gambar serta akun palsu atas namanya. Teror daring itu memaksa Banerji membuka akun media sosial baru untuk merebut kendali narasi dan membagikan kisah aslinya. Ia berharap publik mengenalnya sebagai atlet berprestasi, bukan objek konten tidak pantas yang beredar di dunia maya.

Latar Belakang Prestasi

Keyaa Kunal Banerji dikenal sebagai powerlifter berbakat yang telah lama berlatih untuk berkompetisi di kancah internasional. Di ajang IPF Junior World Championships, ia tampil menakjubkan di kategori kelas beratnya dan berhasil mengangkat 140 kilogram di gerakan deadlift. Video angkatannya itu segera viral di platform media sosial, menarik perhatian ribuan netizen dari berbagai negara. Popularitas mendadak itu seharusnya membuka peluang sponsor dan pengakuan atas dedikasi tahunan di gym.

Kronologi Pelecehan dan Deepfake

Tak lama setelah video tersebar, komentar-komentar bersifat seksual, ancaman, dan penilaian tubuh yang merendahkan mulai banjiri kolom komentar. Lebih parah lagi, sejumlah akun tidak dikenal mulai muncul menggunakan nama dan wajah Banerji yang dimanipulasi oleh AI generatif untuk menciptakan konten pornografi palsu (deepfake). Akun-akun palsu itu juga berinteraksi dengan penggemar seolah-olah mewakili atlet tersebut, merusak reputasi dan menimbulkan kebingungan di kalangan publik. Banerji melaporkan akun-akun tersebut, namun volume dan kecepatan pembuatan konten palsu sulit dikendalikan hanya dengan mekanisme pelaporan standar platform.

Upaya Merebut Narasi

Menghadapi tekanan psikologis yang berat, Banerji memutuskan untuk mematikan akun lama yang telah dijajah penyalahguna dan memulai dari nol dengan akun terverifikasi baru. Melalui akun tersebut, ia mengunggapkan kronologi pelecehan, menegaskan identitas aslinya, dan meminta dukungan untuk melaporkan konten deepfake yang masih beredar. Langkah ini juga menjadi sarana ia untuk berbagi perjalanan latihan, nilai-nilai olahraga, dan aspirasi masa depan tanpa gangguan narasi yang dibangun oleh pelaku kejahatan siber.

Dampak Luas dan Harapan ke Depan

Kasus Banerji menyoroti kerentanan atlet perempuan terhadap kekerasan berbasis gambar sintetis yang semakin mudah dibuat dan disebarkan. Pakar keamanan siber menilai regulasi platform dan undang-undang perlindungan data pribadi belum sebanding dengan kecepatan perkembangan AI generatif. Banerji menegaskan ia tidak akan mundur dari olahraga yang dicintainya dan berharap kasusnya mendorong perubahan kebijakan yang lebih keras bagi pelaku deepfake non-konsensual. Ia ingin dikenang karena kekuatan fisik dan mental di platform angkat besi, bukan sebagai korban teknologi yang disalahgunakan.

Bagikan: