NewsAI
news
Perusahaan Terbitkan Aturan Penulisan AI

Perusahaan Terbitkan Aturan Penulisan AI

Beberapa perusahaan teknologi mulai menerbitkan kebijakan formal untuk mengatasi ketergantungan berlebihan pada konten yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI) dalam komunikasi internal. Polarsteps, Leapsome, dan Clay adalah beberapa perusahaan yang menetapkan batasan baru setelah merasa kelelahan dengan dokumen-dokumen yang membingungkan dan terlalu panjang, mulai dari proposal proyek hingga pembaruan status, yang dihasilkan oleh AI.

Latar Belakang: Maraknya "AI Slop" di Lingkungan Kerja

Survei akhir 2025 menunjukkan bahwa 40 persen pekerja meja di AS menerima apa yang disebut "AI slop" dari rekan kerja, dengan setiap insiden memakan waktu hampir dua jam untuk ditangani. Istilah "meat proxy" yang diciptakan Niklas Gruhn merujuk pada orang-orang yang membagikan output AI tanpa pemeriksaan. Jessica Zwaan, VP Leapsome, menilai pekerja mungkin menyalahgunakan AI karena kesalahpahaman tentang produktivitas, di mana volume dikaitkan dengan efektivitas.

Kebijakan Baru: Transparansi dan Akuntabilitas

Polarsteps, pembuat aplikasi perjalanan didirikan 2015, mewajibkan karyawan mengungkapkan penggunaan AI dan memastikan salinan akhir mencerminkan pemikiran mereka sendiri. Karyawan tetap diperbolehkan menggunakan AI untuk brainstorming dan drafting, namun harus menerapkan pemikiran kritis sebelum membagikan hasilnya. Leapsome menegaskan kejelasan dan kekuatan, serta menentang output AI yang ambigu atau tidak diseleksi. Sementara itu, Clay mewajibkan karyawan bertanggung jawab atas tulisan mereka dan membuat dokumen yang layak dibaca.

Dampak dan Respon Karyawan

Kebijakan-kabijakan tersebut tidak melarang penggunaan AI sepenuhnya, tetapi mencegah pekerja menyerahkan output AI yang tidak diseleksi sebagai karya mereka sendiri. Reaksi dari karyawan dinilai positif, bahkan ada yang meminta pembatasan lebih lanjut mengenai penggunaan AI dalam komunikasi internal. Sarah E. Needleman meliput kepemimpinan dan tempat kerja untuk Business Insider, dengan pengalaman sebelumnya di The Wall Street Journal.

Bagikan: